Al-Amanah

Pondok Pesantren Al-Amanah dan Bilingual

Al-Amanah

KH. Nur Cholis Misbah beserta Asatidz

Al-Amanah

Kegiatan Santri

Assalamu'alaikum kawan, Welcome / Ahlan wa Sahlan blog ini didedikasikan untuk bagi-bagi apapun yang bermanfaat yang kamu punya. mari maju bersama

Pondok Al Amanah adalah wujud idealisme dari pendirinya yaitu ustadz Nurcholis Misbah, seorang alumni Universitas Gajah Mada (UGM) yang tidak pernah mau menyandang gelar kesarjanaanya, yang hingga kinipun –menurut pengakuan beliau - tidak pernah dan tidak akan mengambil ijazah kelulusannya, demi untuk menjaga kemurnian cita-citanya mendirikan Pondok Pesantren.
Perjalanan beliau ini, dimulai sejak tahun 1984 yang pada waktu itu masih berdomisili di Mojosantren, sebuah desa yang terletak di kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Beliau tinggal disana sekitar tiga tahun, aktifitas mengamalkan dan menyiarkan agama cukup berhasil, dengan membina pemuda dan masyarakat setempat yang secara tidak disadari mendapatkan respon yang cukup positif dari banyak pihak, sehingga kemudian berujung pada pembangunan sebuah gedung yang direncanakan menjadi pusat aktifitas pendidikan dan pembangunan masyarakat (Islamic Center), yang dipercayakan kepada beliau untuk dipelihara dan dikembangkan. Namun, dikarenakan kesalah pahaman masyarakat setempat terhadap pola pemikiran beliau, sehingga dukungan dan kepercayaan atas beliau dalam meng handle Islamic centerpun dicabut, sehingga pada tahun 1987 setelah merasakan tinggal di Mojosantren selama 4 tahun lamanya tanpa hasil yang signifikan dalam melaksanakan visi dan misi beliau, akhirnya beliaupun pindah ke duku “Kwangen” yang berada di desa Junwangi yang jaraknya + 1 km dari Mojosantren.Kehidupan baru di Kwangen (Junwangi) sangat berbeda dengan apa yang beliau rasakan di Mojosantren, yang dari segi kehidupan beragama bisa dikatakan kental serta kaum mudanya disibukkan dengan kerja, karena secara geografis Mojosantren adalah tempat strategis yang terkenal dengan Home Industry sepatunya, banyak orang dari luar mengais rizki disini, seakan kejayaan itu tidak pernah akan pudar. Adapun di Kwangen (Junwangi) sebaliknya, kehidupan agama sama sekali tidak nampak, yang ada hanya sebuah musholla kecil yang kotor tak terawat, hal ini menunjukkan lambang stagnasi kehidupan agama.
Disamping itu, banyak kaum muda disana menjadi pengangguran, pagi sian dan sore hanya duduk-duduk sambil ngobrol, dan ketika malam tiba, mereka menghabiskan waktu dengan beraneka permainan judi seperti remi, domino dan catur.
”Pak Nur”, demikianlah beliau akrab dipanggil, dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan tersebut dan berusaha menyiarkan agama dengan jalan menghidupkan musholla kecil yang ada. Lima waktu beliau coba gunakan untuk jama’ah secara rutin, khususnya pada waktu Maghrib, Isya’ dan subuh.
Dan hal tersebut ternyata memberikan “prespektif baru” pada masyarakat, sebagian mereka banyak yang mengikuti, apalagi dengan adanya sedikit kemampuan beliau dalam hal mengobati beragam penyakit, baik untuk masyarakat setempat maupun desa lain, yang secara tidak disadari menambah “wibawa” , sehingga orang yang mengikuti sholat jama’ah semakin banyak dan mushollapun tidak mampu menampung jamaahnya. Yang akhirnya dengan para tokoh masyarakat setempat, beliau dalam musyawarah mengajak dan akhirnya sepakat untuk membangun dan memperbesar musholla dengan segala daya dan upaya yang ada, sehingga musholla tersebut nampak lebih segar dan bagus.
Pengajian anak-anakpun mulai dilakukan, yang cukup banyak santrinya dan jama’ahpun juga bisa dilaksanakna sekaligus dengan mereka. Mereka membuat sumber dana dengan membuat kios yang berjualan rokok, permen dan koran bertempatkan di muka pabrik gula krian.
Walaupun kios itu kurang berhasil seperti apa yang telah direncanakan, tapi pada esensinya mempunyai nilai tambah pengalaman dan bisa mengembalikan modal kepada pemilik dengan sedikit keuntungan, yang akhirnya banyak pemuda sukses bekerja dan tinggal sedikit dari mereka yang menganggur.
Setelah berhasil dengan pengajian anak-anak kecil di musholla dan kurang memuaskan, maka beliau mulai merintis pengajian anak di rumah, yang kemudian “Ibu Rifa’atul Mahmudah (istri Pak Nur), mulai menerima santri putri anak tetangga yang kemudian disusul oleh anak-anak yang lain, dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, beliaupun mulai mendirikan pesantren.
Langkah pertama yang dilakukan untuk menopang kegiatan pengajian anak-anak dan pendanaan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan adalah mencari donatur. Kendati saat itu Pondok al Amanah belum mempunyai suatu yang dapat dibanggakan, namun banyak orang yang simpati dan berkenan menjadi donatur tetap.
Sekitar pada tahun 1992, bangunan yang telah dirintis dapat ditempati, dan tepatnya pada bulan Agustus tahun yang sama (tahun 1992), diadakan sebuah pengajian umum oleh Ibu Uci Nurul Hidayati dan KH. Sholeh Qosim, sebagai simbol peresmian Pondok dan merupakan babak baru sebuah upaya mewujudkan pesantren.
Sementara itu, untuk merumuskan karakter pesantren yang tengah beliau rintis, pencarian bentuk terus beliau lakukan dengan cara keluar masuk mengunjungi banyak pesantren, baik yang bertipologi salaf (klasik), maupun yang bertipologi modern, maka akhirnya beliau putuskan bahwa pesantren al Amanah berkiblat pada pesantren Modern, yang dalam hal ini modern bukan pada gedung maupun fasilitas, melainkan dari segi falsafah dan tata cara berfikir dalam sistem pendidikannya.
Adapun falsafah dan cara berfikir yang mendasari Pondok Pesantren modernAl Amanah Junwangi Krian Sidoarjo adalah sebagai berikut:
  1. Seluruh komponen pesantren harus menjadi bagian dari sistem pendidikan, yang diharapkan ketika santri memasuki kawasan pesantren. Kendati tanpa kalimat, telah dapat menangkap suasana tertentu, suasana pendidikan, belajar, tertib dan disiplin
  2. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, guru hanya satu bagian saja dari sumber-sumber ilmu yang ada. Adapun santri, dikembangkan, dilatih untuk bisa mengambil hikmah dari siapa dan dari apa saja.
  3. Perpustakaan menjadi unit yang sangat penting, dimana para santri dilatih agar rajin membaca, mencatat dan mengambil pengetahuan yang diperlukan.
  4. Pengembangan intelektual merupakan komponen terpenting dalam proses belajar mengajar.
  5. Bahasa juga menjadi komponen dalam “Kemodernan” Al Amanah, karena perannya yang amat sangat besar untuk membuka pintu-pintu khazanah keilmuan. Bahasa Indonesia, arab dan inggris menjadi bahasa wajib, ketiga bahasa tersebut didahulukan karena sebagian sumber keilmuan tertulis dalam tiga bahasa tersebut.
  6. Hubungan antara guru dan murid bersifat “Patner”, karena masing-masing melaksanakan tugas, mendidik sama mulianya dengan menuntut ilmu, maka yang terjadi adalah hubungan saling hormat menghormati dan saling memahami. Hubungan seperti ini menghasilkan pola hubungan yang tidak saling tergantung dan bergantung, sehingga dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren dapat berjalan dengan lancar dan kondusif.
Dengan falsafah pendidikan seperti itu, diahrapkan lahir generasi yang amat mudah beradaptasi, cepat belajar dari lingkungan dan mampu memilah dan memilih, kemudian mengambil yang terbaik.
Letak georgrafis
Secara geografis, Pondok Pesantren modernAl Amanah terletak di desa Junwangi, tepatnya di duku Kwangen, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Adapun batas-batas lokasinya adalah sebagai berikut:
      1. Sebelah utara berbatasan dengan desa Kembang Sore
      2. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Terik
      3. Sebelah barat berbatasan dengan desa Kemasan
      4. Sebelah timur berbatasan dengan desa Candi Negoro (wilayah kecamatan Wonoayu)
Dengan lokasi yang berada di daerah pedesaan, masyarakat sekitar dan lingkungannya masih dalam kategori sangat sederhana dan masih alami, yang menjadikan suasana menjadi akrab dengan ketenangan, kesejukan dan keindahan, disamping letaknya yang berdampingan dengan areal persawahan yang sangat mendukung untuk terciptanya suasana belajar yang kondusif, tenang dan nyaman tanpa adanya banyak gangguan selama proses pembelajaran.

Adapted from:



3 Responses so far.

  1. foregive says:

    Ass.Pak Yai,Mohon ma'af sebelumnya.Kalau terima santri baru,tolong disesuaikan asrama yang dimiliki
    biar santri kalau istirahat habis kegiatan enjoy/ada perimbangan antara keg dan tempat istirahat yg memadai.

  2. kusuma says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Mohon informasi link untuk mendapatkan dana hibah / donatur khususnya dari Timur Tengah atau yang lainnya, guna keperluan untuk memperjuangkan Agama Allah dengan membangun sarana panti asuhan yatim di Yogyakarta yang insya Allah akan menampung bayi/anak-anak terlantar yang sengaja dibuang orang tuanya dengan berbagai alasan.
    Karena membaca perjuangan bapak diatas menginspirasi saya untuk menulis disini, karena saya masih bingung hrs bgm memulai dan menghimpun donatur untuk rencana saya tersebut.

    Jazakumullah Khoiron Katsiran

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    Ridwan Mukti

    Hp : 08156862305 alamat email : bundakasih74@yahoo.com

  3. @foregive : mohon maaf, blog ini bukan website resmi Pondok Pesantren Modern Al-Alamanah, jika anda ingin berkunjung ke website resmi PPM Al-Amanah silahkan klik disini, terima kasih :)
    @kusuma : silahkan Anda langsung mengunjungi website resmi PPM Al-Amanah, klik disini
    terima kasih :)

Leave a Reply